|
|
Sejarah dan beberapa bangunan museum
Teks yang berikut ini dipinjam sesudah disetujui oleh penulis buku 'Historical Sites of Jakarta (Beberapa Situs Sejarah di Jakarta). Buku yang sangat kaya akan
informasi ini diterbitkan pada tahun 2007 oleh Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta dan mengabadikan sejumlah lokasi bersejarah di dan di sekitar Jakarta
dalam gambar dan peta lama dan foto modern. Penulisnya, Adolf Heuken SJ, seorang sejarawan terkenal yang pernah tinggal cukup lama di Jakarta. Kami ingin mengucapkan
terima kasih kepada Bpk. Heuken atas kiriman tulisannya ke situs web ini.
Di sebelah barat utara laut dari Menara Pengintai, serangkaian bangunan bersejarah sambung-menyambung dapat dilihat yang sekarang menjadi tempat Musium Bahari.
Beberapa bangunan tua yang mengesankan menunjukkan konstruksi yang kokoh dan gaya Belanda yang khas. Semua bangunan yang terangkai telah dipugar beberapa
kali sejak musium dibuka dan dirawat dengan sebaik-baiknya dengan mempertimbangkan dana yang terbatas. Bekas gudang ini sudah ada sejak tahun
1652, tapi diubah dan diperbesar beberapa kali hingga tahun 1759.
Sebagian dari gudang ini dibangun lagi pada akhir abad ke-17 untuk memberikan lebih banyak ruang antara tembok kota dan gudang-gudang tersebut. Beberapa tanggal
yang berbeda di batu tampak di atas beberapa pintu gudang musium yang mungkin mengacu pada tahun ketika perbaikan, perluasan, atau tambahan terhadap gudang dilakukan.
Musium Bahari merupakan bagian dari 'Westzijdsche Pakhuizen' atau 'Beberapa Gudang di Tepi/Tebing Barat.' Di sini VOC menyimpan banyak sekali persediaan pala dan lada.
Selain itu kopi, the, dan kain disimpan di sini sebelum dikirimkan ke berbagai bandar/pelabuhan di Asia dan Eropa. Antara beberapa gudang dan tembok kota di depan musium,
kongsi dagang ini menyimpan suplai tembaga dan timah. Beberapa jenis logam berharga ini dilindungi dari hujan oleh semacam balkon dari kayu yang terpasang pada bagian depan
gudang-gudang tersebut. Balkon yang lebar ini juga dipakai oleh para penjaga yang berpatroli, karena jalur di tembok kota di depannya agak sempit.
Balkon ini dihubungkan dengan lantai dua gudang-gudang yang menghadap bagian kota/bandar yang berbatas dengan laut, tapi sudah lama lenyap sejak pembongkarannya.
Beberapa gancu besi besar yang dulu menyangga balkon ini masih dapat dilihat.
Tembok kota yang tersisa di depan Musium Bahari terus sampai ke Benteng Zeeburg dan sedikit lagi ke arah barat itu saja yang tertinggal dari tembok yang dulu mengelilingi
Batavia selama abad ke-17 dan 18. Hanya Benteng Zeeburg dan Culemborg tersisa dari dua puluh tiga benteng dari masa itu.
Buku 'Historical Sites of Jakarta' dijual di toko-toko buku di Jakarta.
|