Bahasa Indonesia  Dutch  English

Home |   Kunjungan |   Informasi |   Program |   Sponsor |   Sitemap




Berita terbaru
Tentang kami
Koleksi
Sejarah 
Publikasi
Area sekitar
Link

Area sekitar


Menara Syahbandar

De Uitkijk Terletak sekitar 50 meter dari Museum Bahari Anda dapat mengunjungi Menara Syahbandar. Menara tersebut dibangun di atas benteng tua yang bernama Culemborg (yang dinamai menurut suatu kota di Belanda) yang berfungsi sebagai gardu dan pos pengamatan terhitung sejak 1839. Sebelum 1839 isyarat dengan kapal telah diganti dengan tiang bendera di galangan kapal VOC yang diletakkan tepat di belakang Menara Pengawas. Menara tersebut kehilangan fungsinya setelah 1886 ketika pelabuhan yang baru di Tanjung Priok telah dibuka.

Adalah memungkinkan untuk memanjat menara tersebut. Setelah memanjat beberapa anak tangga dan mencapai pos pengamatan yang terbuat dari kayu Anda akan mendapatkan suatu pandangan yang indah dari kapal-kapal kayu tradisional di Sunda Kelapa. Hanya dengan sedikit imajinasi Anda dapat membayangkan kapal-kapal VOC yang sangat besar dari kejauhan dari Batavia sedang menantikan muatan mereka ke Eropa. Dari tempat yang ini Anda juga dapat melihat pandangan yang jelas dari Pasar Ikan yang telah ada lebih dahulu.

Menara tersebut sangat dekat dengan Museum Bahari dan akan melengkapi kunjungan Anda ke Museum Bahari Jakarta.



Pelabuhan tradisional Sunda Kelapa

Sunda Kelapa Sedikit lebih jauh dari Museum Bahari terdapat pelabuhan Sunda Kelapa dengan perahu tradisional Bugis. Pelabuhan bersejarah ini, telah digunakan selama Kerajaan Hindu Pajajaran pada akhir dari abad ke-15, dan sekarang ini masih digunakan oleh perahu kayu berwarna-warni yang berbaris dengan rapi satu sama lain di sepanjang dinding dermaga. Di sini banyak kayu dari Sumatra Selatan dan Kalimantan dibongkar muatannya. Dan untuk perjalanan kembali diisi dengan semen dan juga barang-barang lainnya, seluruh muatan tersebut diangkut dengan tangan. 

Loading pinisi Proses bongkar muat dari phinisi adalah benar-benar suatu pertunjukan yang mengagumkan dan patut diperhatikan. Anda akan melihat para pekerja yang menjaga keseimbangan di atas beberapa balok yang tipis sambil membawa muatan berat diatas bahu mereka. Ketika mengunjungi pelabuhan Sunda Kelapa, setelah meminta ijin dan sedikit persenan, untuk mempunyai suatu kesempatan naik ke atas kapal dan bercakap-cakap ( via suatu pemandu) dengan anak buah kapal.
Sangat Direkomendasikan!

Pusat kota tua Batavia

Jembatan Dengan lima belas menit berkendara dari Museum Bahari, terdapat pusat kota tua Jakarta. Di sini adalah bagian kota yang sangat sibuk, pengaruh kolonial masih dapat terlihat dan terasa di bangunan dan orthogonal tataruang jalan. Pada sisi timur Batavia dibatasi oleh dinding kota dan dengan pada sisi barat dibatasi oleh Sungai utama atau Kali Besar. Suatu Ketika, Kali Besar adalah pintu gerbang yang utama untuk kapal untuk masuk Batavia. Pada sisi utara dari Kali Anda dapat melihat jembatan gantung Belanda. Jembatan ini, baru-baru ini diperbaharui, jembatan ini mempunyai beberapa nama panggilan seperti Jembatan Titik Pusat, Jembatan Pasar Ayam dan Juliana Jembatan. Nama yang sekarang adalah Jembatan Kota Intan 

Museum Fatahilla Pusat dari Batavia dibentuk dari taman yang sekarang ini dikenal sebagai Taman Fathillah. Di Sini adalah balai kota yang terdahulu sekarang menjadi Fatahillah Museum yang historis. Museum ini, juga telah diperbaharui, mempunyai koleksi dari artifacts dan mebel dari zaman kolonial. Di samping benda kolonial Museum juga mempunyai beberapa artifak prasejarah.



Museum Wayang Di samping Museum yang historis ada Museum dua lagi pada Taman Fathillah yakni Museum Wayang dan Museum Seni Rupa dan Keramik (Balai Seni Rupa). Museum Boneka menempati Gereja Belanda dan memperlihatkan suatu koleksi yang indah tentang Jawa kulit wayang seperti halnya boneka dari Asia tenggara seperti Negeri China dan Kamboja.

Pada bagian timur lapangan adalah Museum Seni Rupa dan Keramik. Bangunan ini menempati gedung pengadilan pada jaman dahulu. Museum menunjukkan Lukisan Indonesia dari abad 19th dan abad 20. Di bagian keramik dari Museum Anda dapat lihat koleksi porselin antik yang diwariskan dari Adam Malik mantan wakil Presiden yang terdahulu.




 

Disclaimer - All Rights Reserved 2008-2009, Museum Bahari Indonesia
 - Last updated: June 2009 -